Senin, 08 April 2019

PEMBACA VERSUS BACAAN



Membaca merupakan salah satu jalan memperoleh informasi. Tapi tidak banyak orang yang benar-benar memahami hal tersebut. Maka dari itu pemerintah lewat pendidikan mengupayakan agar sekolah memiliki culture membaca. Kemudian di sekolah guru berjumpa dengan peserta didik yang membaca dengan baik (lancar membaca) namun belum optimal dan membudaya.

Perlu diketahui bahwa membaca bukan serta merta menghubungkan huruf, kata, dan kalimat semata. Melainkan mampu membayangkan dari apa yang telah dibaca dan itu perlu latihan. Beberapa peristiwa nyata di sekolah, peserta didik diarahkan atau diberikan jadwal membaca. Menyikapi hal tersebut peserta didik membawa buku dan memang sepintas terlihat antusias. Namun setelah 5 menit sampai 10 menit peserta didik sebagaian besar mulai membuka cerita-ceritanya dan asyik mengobrol. Terus membacanya bagaimana? Guru melihat situasi ini akan mengambil tidakan mendekati peserta didik tersebut dan mengarahkan untuk berhenti mengobrol dan kembali fokus membaca. Melalui hal tersebut peserta didik kembali membaca. Terus apakah hal yang dilakukan guru tersebut sudah benar?

Kalau mengarahkan suasana membaca saja jelas benar. Tapi sesungguhnya bukan hanya mengarahkan melainkan mengarahkan kemudian mengembangkan dan meningkatkan. Tindakan guru tersebut baru mengarahkan saja sehingga sudah jelas kualitas membaca tetap rendah. Peristiwa ini di luar kemampuan peserta didik yang dileksia. Peserta didik telah lancar membaca saja cenderung “alergi” terhadap kegiatan literasi. Hendaknya guru harus mampu memperbaiki hal tersebut dengan solusi yang relevan. Apa yang salah padahal mereka lancar membaca? Harus mulai darimana untuk memperbaiki hal ini? Itu pertanyaan yang akan muncul.

Tidak dipungkiri berapa sih guru-guru itu juga kenal buku, penulis, dan literasi pada waktu-waktu senggangnya? Jawab dalam hati masing-masing sajalah Bapak/Ibu guru! Bagi yang merasa belum, ayo membaca lagi lagi dan lagi. Menjadi masalah dalam peristiwa ini adalah ketidak cocokan antara pembaca dengan bacaan. Contoh: ketika di sekolah guru mengarahkan kegiatan literasi, tanpa berpikir panjang peserta didik mengambil salah satu buku yang dibawa pada saat itu (masih apa yang diinginkan waktu itu belum terhadap apa yang cocok). Bagi yang tidak membawa berupaya meminjam di perpustakaan dalam waktu singkat pula dan fatalnya lagi menyuruh salah satu temannya untuk mengambilkan buku apapun terserah. Hal yang terjadi dibenak siswa adalah, ya biar ada yang saya baca. Akhirnya baru baca lima menit, sepuluh menit sudah gelisah dan terlihat kegiatan tersebut membosankan. Apalagi diarahkan peserta didik baca buku tertentu jelas tidak akan menarik, karena antara bacaan dengan peserta didik belum cocok.

Disinilah peran guru mengarahkan, mengembangkan, dan meningkatkan. Apakah pendidik sudah mengarahkan peserta didik tentang jenis bacaan yang cocok bagi pribadi setiap anak? Kalau sudah berapa persentase peserta didik memperoleh bacaan yang cocok? Kalau belum ayo ajak peserta didik mencari buku yang cocok buat diri mereka dan bantu untuk menemukannya.  Mencari buku yang cocok tidak mudah dan perlu waktu berhari-hari, bahkan mingguan. Idealnya bagaimana kita bisa nyambung kalau sudah tidak cocok? (apapun itu). Yang timbul malahan bosan, bosan, dan membosankan.

Tanda buku tidak cocok adalah setelah dibaca lima menit sudah bosan. Menyikapi hal tersebut segeralah beralih kebuku lain. Begitu seterusnya hingga benar-benar menemukannya, untuk pendidikan ditingkat dasar jelas perlu arahan dan bantuan dari guru. Setelah itu dilakukan, baru menuju tahap mengembangkan membaca. Mengembangkan ini di dalamnya memuat tentang membaca bermakna yaitu sebelum membaca tentukan tujuan atau yang ingin dicapai secara realistis. Realistis yang dimaksud adalah tujuan yang mudah dicapai oleh pembaca seperti ketika membaca koran tentang sports “untuk mengetahui penyebab kekalahan klub Real Madrid dengan klub Abc”. Jika itu sudah jelas barulah mulai untuk membaca. Setelah membaca satu paragraf upayakan untuk berhenti sejenak untuk membayangkan maksud paragraf tersebut. Jika dibaca sekali pembaca sudah jelas tentang maksudnya, silakan lanjutkan ke paragraf berikutnya. Jika belum mampu membayangkan, hindari untuk melanjutkan ke paragraf berikutnya. Jika tetap dilanjutkan hasilnya malahan fatal dan tanpa arah sehingga jelas akan menjadi sulit mengerti akan bacaan tersebut. Maka dari itu pembaca harus rela untuk mengulang peragraf tersebut. Sering latihan pengulangan tersebut akan pudar seiring waktu yang anda lewati.

Mengarahkan memperoleh yang cocok, mengembangkan dengan menentukan tujuan terlebih dahulu dan membayangkan disetiap akhir paragraf sehingga meningkatlah literat dan tanpa disadari akan terbentuk budaya di sekolah. Membaca bukan menjadi “alergi” lagi melainkan rasa penasaran dan ketagihan. Karena pembaca dan bacaan tidak boleh berlawanan maka dari itu mari jalin hubungan melalui kecocokan antara pembaca dan bacaan.()*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar