Jumat, 18 Februari 2022

KONEKSI ANTAR MATERI PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 


KONEKSI ANTAR MATERI 

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Filosofi Ki Hajar Dewantara yang kerap kita kenal sebagai Pratap Triloka merupakan semboyan yang menjadi pedoman Pendidikan di Indonesia. Semboyan ini diantaranya adalah Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Sebagai pemimpin pembelajaran Pratap Triloka ini justru menjadi roh dalam manjalankan peran serta nilai-nilai pendidik dan makna yang terkandung dalam semboyan ini mesti melekat pada setiap pendidik. Keteladanan memberikan dampak kepercayaan bagi warganya dan sebagai pemimpin pembelajaran juga mampu memberikan motivasi serta tuntunan bagi lingkungannya sehingga warga sekolah pun memiliki keterampilan dalam mengambil sebuah keputusan. Filosofi Pratap Triloka ini nantinya berdampak signifikan terhadap pikiran hingga perilaku dikesehariannya salah satunya yaitu mengambil sebuah keputusan yang beretika, berorientasi pada murid, dan penuh rasa tanggung jawab.

Nilai-nilai yang tertanam pada diri juga memiliki pengaruh terhadap pengambilan keputusan. Nilai tersebut seperti mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada murid. Semua nilai ini menjadi sangat penting hadir pada langkah-langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Mandiri menjadikan seorang pemimpin pembelajaran merespon segala bentuk peristiwa yang terjadi. Kolaboratif dalam langkah mengumpulkan fakta-fakta yang relevan serta ditahap uji panutan. Inovatif memberikan opsi dari pilihan yang sudah ada sehingga muncul sebuah penyelesaian yang kreatif. Refleksi manjadikan kita untuk mampu melihat proses pengambilan keputusan dan pelajarannya dan dijadikan acuan bagi kasus selanjutnya. Sebagai pemimpin pembelajaran keputusan mesti berorientasi terhadap murid artinya berdampak yang terbaik bagi murid. Selain nilai utama tersebut juga terdapat nilai kebajikan universal yang menjadi panutan tersendiri  seperti keadilan, kasih sayang, kesetiaan, dan lain-lain.

Sebagai pempimpin pembelajaran juga sangat perlu untuk memberikan ruang dan memfasilitasi warga sekolah seperti rekan guru atau murid untuk mereka berkembang dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Hal ini dapat dilakukan melalui keterampilan coaching. Melalui coaching dengan model TIRTA akan mampu mengarahkan coachee dalam mengambil keputusan yang tepat untuk dirinya dengan memaksimalkan potensi yang dimilikinya.

Pengambilan keputusan juga didasari atas aspek sosial emosional sehingga keputusan mampu efektif dan beretika. Artinya pengambilan keputusan dapat dilakukan jika kita mampu memiliki kesadaran penuh yang memberikan tingkat fokus terbaik. Hal ini tentu dapat dilatih dengan salah satu Teknik STOP. Teknik ini melatih kesadaran melalui napas yang pada akhirnya memberikan energi positif, pikiran yang lebih baik dan lebih fokus terhadap situasi yang dihadapi saat ini. Sehingga mampu dengan lebih baik dalam menganalaisis kasus yang dihadapi apakah termasuk dilema etika atau bujukan moral. Segala keputusannya pun mampu mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan universal yang diyakini sebagai seorang pendidik. Selain itu memberikan analisa yang baik dalam menentukan paradigma  dilema etika, prinsip berpikir, serta sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Semua langkah ini selain berorientasi pada murid juga memberikan dampak positif, kondusif, aman dan nyaman terhadap lingkungannya.

Pengambilan keputusan tentu tidaklah mudah terlebih pada situasi dilema etika. Perubahan paradigma lingkungan benar adanya dimana yang seharunya segala sesuatu yang dilakukan termasuk mengambil keputusan tentu mempertimbangkan murid. Apa dampaknya bagi murid, sudahkan peduli dan berpihak kepada murid? Ini terlihat seperti pertanyaan sederhana tapi dibalik itu paradigmalah menjadi kuncinya. Merubah paradigma juga tidak mudah karena perlu kesadaran serta motivasi intrinsik seorang pendidik. Sehingga mengidentifikasi paradigma dilema etika mampu memberikan penajaman bahwa kasus yang dihadapi benar-benar mempertentangkan dua nilai kebajikan yang secara moral sama-sama penting. Walaupun seperti itu, keputusan harus tetap diambil. Jika keputusan diambil berorientasi kepada murid sudah bisa dipastikan akan berdampak dan berpihak pada murid yang tentu terwujudnya merdeka belajar. Seperti keterampilan coaching yang pendidik lakukan kepada murid senantiasa memberikan kesempatan murid untuk terbuka dan mengambil keputusan berdasarkan potensi atau nilai kebajikan yang dimilikinya. Secara tidak langsung murid terlatih dalam mengembangkan nilai reflektif, inovatif, sosial emosionalnya dan kolaboratif dalam mengambil keputusan.  Selain itu melalui Kompetensi Sosial Emosional (KSE) dengan budaya positf yang pendidik integrasikan dalam pembelajaran juga melatih empati hingga pengelolaan diri murid.  Sehingga keputusan yang diambil murid menjadi berpengaruh positif terhadap kehidupan dan masa depan mereka.

Sebagai pemimpin pembelajaran harus meliki paradigma baru yang berpedoman pada filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu menuntun segala kodrat murid untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan mereka setinggi-tingginya.Segala yang guru lakukan harus berorientasi pada murid dengan mengimplementasikan Pratap Triloka. Pembelajaran dan pengembangan sekolah yang dilakukan pun selalu memperhatikan kebutuhan murid hingga mengambil sebuah keputusan. Memahami Sembilan langkah pengambilan keputusan saja tidaklah cukup. Penting bagi pendidik untuk selalu berlatih untuk memiliki keterampilan dalam pengambilan keputusan. Hal yang sangat penting dalam pengambilan keputusan yang beretika adalah didasari dengan nilai-nilai kebajikan universa, rasa tanggung jawab dan berorientasi pada murid.

Salam Guru Penggerak💪

Salam dan Bahagia😊🙏


Download
Adobe Photoshop CS3 Portable
Adobe Photoshop CS3 Portable