Sabtu, 09 Februari 2019

PERLUKAH ADANYA MATA PELAJARAN MEMBACA?




Seberapa anak yang gemar membaca? Seberapa anak yang benci membaca? Pertanyaan tersebut pertama dilontarkan di sekolah atau di kelas saat pembelajaran pertama. Setelah itu cenderung peserta didik pada kelompok ragu dan benci membaca. Peserta didik yang benci membaca tidak membaca dengan baik dan itu logis. Wajar kita tidak suka sesuatu yang tidak kita kuasai. Dibalik itu semua membaca sangat penting dan mampu menghantarkan keberhasilan di sekolah bahkan di kehidupan. Selaku guru kita wajib mengetahui penyebab peserta didik tidak suka membaca dan bukan hanya sekedar prediksi melainkan perlu adanya diskusi dua arah dengan peserta didik. Mengapa mereka sampai merasa benci membaca. Di bawah ini beberapa hasil bincang-bincang yang telah dirangkum mengenai alasan-alasan peserta didik tersebut merasa benci membaca.
  1. Membaca membuat mereka pusing dan mata menjadi sakit
  2. Membaca banyak bahan yang tidak sesuai bagi peserta didik sehingga menjadi tidak tertarik.
  3. Menyelesaikan bacaan yang sering dimulai di kelas, bacaan banyak, sulit hingga membosankan.
  4. Peserta didik mengetahui akan diuji dari apa yang telah dibaca. Hal tersebut akan berdampak  membuat membaca menjadi beban, bukannya mendapat informasi dan memperoleh pandangan baru atau sesuatu yang menghibur.
  5. Cenderung peserta didik kebingungan ketika membaca kembali akibat pemahaman dasar yang belum terpenuhi.
  6. Memberi komentar atau pendapat tentang buku yang dibaca melalui verbal atau tulis, tapi ketika peserta didik berkata jujur malah mendapat penilaian buruk.
  7. Peserta didik tidak suka sebuah buku atau cerita, guru malah tidak mendukung untuk merekomendasikan yang terbaik. Melainkan sedikit memaksa sehingga membuat peserta didik merasa bodoh karena tidak menghargai buku atau cerita tersebut.
Cenderung peserta didik berpartisipasi dalam membaca dengan berkelompok. Mungkin saja akan memiliki kemampuan yang baik. Ketika posisikan mereka membaca sendiri perilaku anak tersebut pasti akan berubah secara drastis. Mulai terlihat tanda-tanda bahwa membaca tidak nyaman. Bisa diamati dari matanya, cemberut, usap-usap mata, memegang buku terlalu jauh atau dekat, lebih banyak berkedip dan pasti saja kehilangan baris-baris bacaan. Sekolah harus memberikan label pada peserta didik tersebut karena sinar yang berlebihan akan menhadirkan ketidaknyamanan dalam membaca. Dari beberapa sumber yang ditelusuri bahwa hal tersebut menunjukkan tanda sensitivitas skotopis dan dianjurkan menggunakan overlay untuk membaca.

Mulailah dengan sesuatu yang menarik, cenderung peserta didik laki-laki memilih bacaan non-fiksi. Percayalah jika membaca non-fiksi hingga berkembang menjadi pembaca yang baik akan menghantarkan mereka menjadi lebih baik dan maju dalam membaca fiksi. Melalui hal tersebut telah mengajarkan bahwa buku itu menyenangkan. Pendapat peserta didik terkait buku yang dibaca itu penting, jangan sampai membuat mereka diam. Karena pendapat tersebut membuat peserta didik yang lain tertarik. Belajarkan peserta didik menganalisis pilihan bacaan dan berbicara melalui pendapat tentang apa yang dibaca. Pendapat tersebut terhadap bacaan bisa menarik atau sebaliknya. Jika menarik, bagaimana karakternya, jelaskah gambaran ceritanya, akhir ceritanya memuaskan atau tidak, dan guru harus menuntun peserta didik. Sebaliknya jika tidak menarik, apakah kata-katanya sulit, menyebutkan kosakata yang sulit, kalimatnya panjang atau pendek, ceritanya lambat atau cepat. Membosankan mungkin terjadi dan mereka harus mampu menjelaskan kenapa seperti itu dengan cara yang cerdas dan sopan.

Pertukaran buku mampu memberikan suasana baru dan bagaimana mampu membelajarkan menemukan bacaan yang sesuai. Kuncinya kembali guru harus mengenal pelbagai macam buku bacaan dari perpustakaan misalnya. Mulai dari non-fiksi, novel, dan cerita horor mungkin. Kemudian menyarankan untuk membacanya selama lima menit dan memberikan rating satu sampai sepuluh dan membuat catatan singkat pada sebuah kartu. Setelah itu peserta didik menukar buku tersebut dengan peserta didik lainnya hingga membaca paling tidak lima buku. Peserta didik yang menyukai salah satu atau beberapa buku diperbolehkan untuk meminjamnya. 

Ciptakan kultur baru yaitu setelah membaca tidak ada ujiannya. Meminta pendapat mereka dari apa yang dibaca itu berbeda dengan menguji dari apa yang dibaca. Tunjukkan pada peserta didik bahwa membaca itu bukan untuk ujian. Membaca itu kemampuan, jadi belum tentu benar menguji level kemampuan peserta didik karena telah membaca. Tanpa disadari bahwa peserta didik akan belajar dari pengalaman membaca itu menjadi sebuah tugas. Padahal sesungguhnya membaca itu adalah memperoleh informasi dan mampu menstimulasi otak atau menjadi sesuatu yang menghibur. Menguji yang dimaksud menggunakan format soal seperti pilihan ganda, atau kuis memasangkan. Guru harus merancang itu lebih fleksibel dan lebih terbuka. Tanyakan tentang karakter dalam cerita, memberikan contoh tindakan atau perkataan, semua itu utamakan dari adjektif peserta didik. Memintanya memberikan rating dan menjelaskannya.

Perlunya strategi membaca agar tidak membingungkan untuk meningkatkan pemahaman dari apa yang dibaca. Ketahuilah bahwa ketika membaca akan menciptakan gambaran mental tentang apa yang dibaca. Ketika kehilangan gambaran saat membaca pasti juga kehilangan pemahaman terhadap bacaan. Pada kondisi tersebut jangan coba lanjutkan membaca, berhenti sejenak untuk menemukan gambaran dari paragraf tersebut. Gambaran itu tercipta disetiap paragraf bacaan, maka mulailah dengan satu paragraf dan bisakah kita menggambarkan isi paragraf tersebut. Peserta didik akan belajar lebih baik ketika mereka mengajarkan apa yang sudah mereka pelajari. Hal tersebut dilakukan melalui kegiatan setelah membaca peserta didik mencoba menuliskan rangkuman untuk peserta didik lainya yang belum membaca bahan tersebut.

Membaca juga perlu latihan. Membaca itu seperti penari, penyanyi, pembalap, dan musisi. Walaupun sesorang terlahir memiliki bakat tertentu mustahil bisa menguasai apa pun tanpa berlatih. Mulailah dengan membaca buku teks, artikel, atau cerita yang baru. Kemudian guru mengintruksikan mulai dan setiap anak membaca. Waktu yang disediakan adalah satu menit dan intruksikan stop. Selanjutnya minta mereka melingkari kata terakhir dan ajarkan untuk menghitung jumlah kata yang dibaca tanpa menghitung kata per kata. Caranya hitung jumlah kata disetiap empat baris bacaan, kemudian tambahkan angkanya dan bagi empat sehingga memperoleh rata-rata jumlah kata per baris. Selanjutnya peserta didik menghitung jumlah baris yang mereka baca dan dikalikan rata-rata tadi. Sehingga memperoleh jumlah kata dalam waktu satu menit. Peserta didik yang bersungguh-sungguh pasti akan mengalami peningkatan. Hal tersebut akan memberikan kita persepsi bahwa latihan belum tentu membuat sempurna, tapi jelas akan membuat peningkatan. Guru harus tidak henti-hentinya memberikan pujian dan memberikan bacaan-bacaan yang baru.

Perlu yang dihindari guru adalah membuat peserta didik ragu akan tingkat kecerdasan mereka. Selalu hargai usah tulus mereka dan motivasi mereka agar mengembangkan gagasan mereka secara logis dan lengkap. Jika guru mendukung peserta didik mengelola kebanggan dan rasa hormat terhadap diri mereka, peserta didik akan terus berusaha dan terus berkembang. Melalui tingkat kedewasaan dan latihan, kemampuan membaca dan menulis mereka akan meningkat, dan mereka akan lebih baik dalam mengapresiasi sastra yang membutuhkan pendekatan yang lebih kompleks. Bagimana pendekatan yang begitu kompleks hanya bisa diselipkan beberapa menit, atau hanya baru perintah-perintah saja untuk literasi. Pada hal kita semua tahu realita masih rendahnya minat baca. Terus apakah perlu adanya mata pelajaran membaca? Silakan dimaknai bersama hingga mampu meningkatkan aspek membaca disetiap pribadi kita dan generasi-generasi bangsa. 







inspired by writting LouAnne Johnson